You Are Here : Home »

Sejarah Jembatan Merah di Surabaya

Ada satu kesamaan kenapa jembatan-jembatan di bawah ini dikatakan sebagai jembatan merah, ya jembatan merah ini ternyata tidak hanya ada di kota pahlawan saja tetapi juga berada di wilayah lain Indonesia, misalnya di Bogor, Balikpapan, dan Kerinci walaupun tidak merah warnanya tapi masyrakat sekitar menyebutnya sebagai jembatan merah.

Merahnya sebutan bagi jembatan-jembatan itu karena sejarahnya yang kelam. Pasalnya, di jembatan itu dulunya pernah terjadi peristiwa pertumpahan darah antara pejuang Indonesia melawan penjajah di zaman revolusi fisik. Nah, dari saking banyaknya darah para pejuang dan lawannya yang tumpah di jembatan itu, maka jembatan itu pun dinamakan Jembatan Merah.


Yang pertama seperti yang kita ketahui adalah Jembatan Merah di Surabaya. Jembatan yang melintasi sungai Kalimas ini sungguh melegenda dan sepertinya tak ada satu pun orang Surabaya yang tidak mengenal jembatan ini. Dibangun beratus-ratus tahun yang lalu, awalnya jembatan adalah jembatan kayu dan dibuat karena kesepakatan Pakubowono II dari Mataram dengan VOC tahun 11 November 1743. Dalam perjanjian disebutkan bahwa beberapa daerah pantai utara, termasuk Surabaya, diserahkan ke VOC, termasuk Surabaya yang berada di bawah kolonialisme Belanda.






Sejak saat itu daerah Jembatan Merah menjadi kawasan komersial dan menjadi jalan vital yang menghubungkan Kalimas dan Gedung Residensi Surabaya. Dengan kata lain, Jembatan Merah merupakan fasilitator yang sangat penting pada era itu. Tak heran jika gedung keresidenan Surabaya saat itu dibangun tepat di ujung barat jembatan, agar pemerintah bisa langsung mengawasi kebersihan, keamanan dan ketertiban di sekitarnya.

Dalam perkembangannya, Jembatan Merah ini berubah secara fisik sekitar tahun 1890-an, ketika pagar pembatas diubah dari kayu menjadi besi. Saat ini, kondisi jembatan yang menghubungkan jalan Rajawali dan Kembang Jepun di sisi utara Surabaya ini hampir sama seperti jembatan lainnya, dengan warna merah tertentu.


Nah, kenapa dimakan jembatan merah? Ya karena dilokasi tersebut pernah terjadi pertumpahan darah antara pejuang dengan penjajah. Di tempat ini juga Brigadir A.W.S Mallaby, pemimpin angkatan bersenjata Inggris yang telah menguasai Gedung Internationale Crediet en Verening Rotterdam atau Internatio tewas terbunuh di tangan arek-arek Suroboyo. Jembatan Merah ini pun menjadi saksi bisu betapa gigih dan beraninya arek-arek Suroboyo dalam perang 10 November Surabaya melawan tentara Sekutu dan NICA-Belanda yang hendak menguasai kembali Surabaya.


Kedua ada Jembatan Merah di Balikpapan, masih di zaman perjuangan kemerdekaan sekitar tahun 1945-1947, Jembatan Merah ini juga menjadi saksi bisu pertempuran para pejuang Balikpapan.


Saat itu para pejuang Balikpapan menggunakan taktik gerilya untuk melawan Belanda yang mencoba menguasai kembali Balikpapan. Nah, di jembatan ini kerap kali pecah pertempuran antara pejuang dan tentara Belanda. Tak pelak, jatuh korban dari pihak pejuang yang gugur dalam pertempuran dengan tentara Belanda di jembatan ini.

Setiap usai pertempuran, jembatan ini selalu penuh dangan bercak darah dari tentara Belanda dan pejuang yang terluka. Karena itu oleh para pejuang jembatan ini dikenal dengan nama Jembatan Merah. Jembatan Merah tersebut kini masih ada. Dan setiap harinya dilewati kendaraan yang melintas dari dan ke kebon sayur.


Ketiga, Jembatan merah yang berada di Desa Pulau Tengah, Kecamatan Keliling Danau, Kabupaten Kerinci ini. Akan tetapi walaupun jembatan itu dibilang sebagai jembatan merah, namun warna jembatan ini bukanlah merah melainkan kuning.


Penamaan jembatannya sendiri sebagai jembatan merah karena dulunya, seperti kedua jembatan merah di atas jembatan ini dahulunya juga merupakan tempat pertumpahan darah dari pahlawan Kerinci dengan para penjajah.


Di jembatan itu banyak terjadi pertempuran karena pada Agresi Militer II tahun 1949, Belanda masuk ke desa Pulau Tengah dan membuat camp sekitar 50 meter berjarak dari jembatan. Nah, dengan adanya camp tentara Belanda di dekat jembatan tersebut membuat para petinggi Belanda menjadikan jembatan itu sebagai tempat untuk mengeksekusi penduduk Indonesia yang pro dengan republik.


Tentara Belanda tidak memberikan sedikit keringanan bagi warga Kerinci saat itu, setiap warga yang mau membayar “Tebus Nyawo”, maka tidak akan dibunuh. Selain sebagai tempat menghabisi nyawa rakyat Indonesia, jembatan ini juga dimanfaatkan oleh warga dan tentara perlawanan untuk mengintai para penjajah pada malam hari. Tak sedikit tentara belanda yang berhasil dibunuh oleh warga di bawah jembatan itu.


Hampir setiap harinya terjadi pertumpahan darah di jembatan tersebut, sehingga setelah kemerdekaan pada tahun 1950-an, saat jembatan tersebut dibuat dengan besi, jembatan ini pun dinamakan jembatan merah. 

Sejarah Tari Jaipong dari Jawa Barat

Indonesia Memang Akan Kaya Khasanah Budaya Bangsa yang dilahirkan dari Nenek Moyang Kita salah satunnya adalah Jenis Kesenian atau tarian di Jawa Barat Yakni Tari Jaipong.

Pengertian Tari Jaipong

Jaipongan adalah sebuah aliran seni tari yang lahir dari kreativitas seorang seniman Berasal dari Bandung, Gugum Gumbira. Perhatiannya pada kesenian rakyat yang salah satunya adalah Ketuk Tilu menjadikannya mengetahui dan mengenal betul perbendaharan pola-pola gerak tari tradisi yang ada pada Kliningan/Bajidoran atau Ketuk Tilu.
Gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid dari beberapa kesenian di atas cukup memiliki inspirasi untuk mengembangkan tari atau kesenian yang kini dikenal dengan nama Jaipongan.


Sebagai tarian pergaulan, tari Jaipong berhasil dikembangkan oleh Seniman Sunda menjadi tarian yang memasyarakat dan sangat digemari oleh masyarakat Jawa Barat (khususnya), bahkan populer sampai di luar Jawa Barat.


Menyebut Jaipongan sebenarnya tak hanya akan mengingatkan orang pada sejenis tari tradisi Sunda yang atraktif dengan gerak yang dinamis. Tangan, bahu, dan pinggul selalu menjadi bagian dominan dalam pola gerak yang lincah, diiringi oleh pukulan kendang. Terutama pada penari perempuan, seluruhnya itu selalu dibarengi dengan senyum manis dan kerlingan mata. Inilah sejenis tarian pergaulan dalam tradisi tari Sunda yang muncul pada akhir tahun 1970-an yang sampai hari ini popularitasnya masih hidup di tengah masyarakat.

Sebelum bentuk seni pertunjukan ini muncul, ada beberapa pengaruh yang melatarbelakangi bentuk tari pergaulan ini. Di Jawa Barat misalnya, tari pergaulan merupakan pengaruh dari Ball Room, yang biasanya dalam pertunjukan tari-tari pergaulan tak lepas dari keberadaan ronggeng dan pamogoran. Ronggeng dalam tari pergaulan tidak lagi berfungsi untuk kegiatan upacara, tetapi untuk hiburan atau cara gaul.


Keberadaan ronggeng dalam seni pertunjukan memiliki daya tarik yang mengundang simpati kaum pamogoran. Misalnya pada tari Ketuk Tilu yang begitu dikenal oleh masyarakat Sunda, diperkirakan kesenian ini populer sekitar tahun 1916. Sebagai seni pertunjukan rakyat, kesenian ini hanya didukung oleh unsur-unsur sederhana, seperti waditra yang meliputi rebab, kendang, dua buah kulanter, tiga buah ketuk, dan gong. Demikian pula dengan gerak-gerak tarinya yang tidak memiliki pola gerak yang baku, kostum penari yang sederhana sebagai cerminan kerakyatan.


Seiring dengan memudarnya jenis kesenian di atas, mantan pamogoran (penonton yang berperan aktif dalam seni pertunjukan Ketuk Tilu / Doger / Tayub) beralih perhatiannya pada seni pertunjukan Kliningan, yang di daerah Pantai Utara Jawa Barat (Karawang, Bekasi, Purwakarta, Indramayu, dan Subang) dikenal dengan sebutan Kliningan Bajidoran yang pola tarinya maupun peristiwa pertunjukannya mempunyai kemiripan dengan kesenian sebelumnya (Ketuk Tilu / Doger / Tayub). Dalam pada itu, eksistensi tari-tarian dalam Topeng Banjet cukup digemari, khususnya di Karawang, di mana beberapa pola gerak Bajidoran diambil dari tarian dalam Topeng Banjet ini.


Secara koreografis tarian itu masih menampakan pola-pola tradisi (Ketuk Tilu) yang mengandung unsur gerak-gerak bukaan, pencugan, nibakeun dan beberapa ragam gerak mincid yang pada gilirannya menjadi dasar penciptaan tari Jaipongan. Beberapa gerak-gerak dasar tari Jaipongan selain dari Ketuk Tilu, Ibing Bajidor serta Topeng Banjet adalah Tayuban dan Pencak Silat.

Gunung Tertinggi di Indonesia


Pulau Sumatra : Gunung Kerinci (3.805 m dpl)

Gunung Kerinci (juga dieja “Kerintji”, dan dikenal sebagai Gunung Kerenci, Gadang, Berapi Kurinci, Korinci, atau Puncak Indrapura) adalah gunung tertinggi di Sumatra, dan puncak tertinggi di Indonesia di luar Papua. Gunung Kerinci terletak di Bukit Barisan, dekat pantai barat, dan terletak sekitar 130 km sebelah selatan Padang. Ia adalah fitur paling terkenal dari Taman Nasional Kerinci Seblat.


Gunung Kerinci merupakan gunung berapi tertinggi di Indonesia (3.805 m dpl). Gunung ini memiliki kawah berbentuk kerucut dengan dinding bagian atas berukuran 600 x 580 meter dan 120 x 100 meter untuk dinding bagian bawah. Kawah ini diisi oleh air dengan warna hijau kekuning-kuningan.


Pada ketinggian 3.805 m dpl menawarkan pemandangan ke empat penjuru mata angin yang sangat mengagumkan.

Kerinci masih aktif dan terakhir kali meletus pada tahun 1970.


Pulau Jawa : gunung Semeru (3.676m dpl)





Gunung Semeru (3.676m dpl) merupakan gunung tertinggi di Pulau Jawa dan merupakan gunung berapi tertinggi ke-tiga di Indonesia. Gunung Semeru terletak di pegunungan Tengger dan bertetangga dengan Gunung Bromo.


Gunung ini menyuguhkan pemandangan yang sangat menarik bagi para pendaki, yaitu letusan vulkanis setiap 10 menit yang menyembur dari kawah Jonggring Saloko.


Selain itu dipertengahan jalur pendakian terdapat danau Ranu Kumbolo dengan luas sekitar 5 Ha menyiratkan kesan tersendiri bagi pendaki Semeru.


Kep.Sunda Kecil : Gunung Rinjani (3.726m dpl)





Gunung Rinjani terletak di Pulau Lombok bagian Utara dengan ketinggian 3,726 m dpl, merupakan gunung berapi tertinggi ke dua di Indonesia. Bagi masyarakat Hindu mereka percaya di puncaknya merupakan tempat suci, tempat tinggal para Dewa. Pendakian ke gunung Rinjani dapat menjadi pengalaman tak terlupakan.


Pada ketinggian 2000 m di atas permukaan laut terdapat kaldera yang membentuk danau Segara Anak. Di tengah-tengah terdapat gunung Barujari yang masih aktif, tempat ini juga merupakan sumber mata air panas yang dipergunakan untuk berobat, sedangkan danau Segara Anak dapat dipergunakan sebagai tempat memancing.


Pulau Kalimantan : Gunung Bukit Raya (2.278m dpl)





Seharusnya puncak tertinggi di pulau ini adalah puncak gunung Kinabalu (4.095 m dpl), akan tetapi berhubung puncak tersebut berada di negeri jiran Malaysia, maka tidak termasuk kedalam kelompok tujuh puncak tertinggi di tujuh kepulauan atau pulau Indonesia.


Untuk itu puncak tertinggi di pulau Kalimantan dipegang oleh puncak Gunung Bukit Raya dengan ketinggian 2.278 meter dari permukaan laut. Gunung ini berada di perbatasan propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan tengah.


puncak bukit raya terletak di Pegunungan Schwaner yang berada pada kawasan Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya.


Taman Nasional Bukit Baka-Bukit Raya merupakan Kawasan konservasi yang terletak di jantung Pulau Kalimantan. Kawasan ini memiliki peranan penting dalam Fungsi hidrologis sebagai catchment area bagi Daerah Aliran Sungai Melawi di Kalimantan Barat dan Daerah Aliaran Sungai Katingan di kalimantan Tengah. Kawasan hutan Bukit Baka-Bukit Raya Merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan tropika pengunungan yang mendominasi puncak-puncak pegunungan Schwaner


Pulau Sulawesi : Gunung Jatimojong (3.430m dpl)





Puncak gunung tertinggi di pulau ini dipegang oleh pegunungan Latimojong dengan puncak tertingginya bernama Rante Mario memiliki ketinggian 3.430 m dari permukaan laut.


Pegunungan Latimojong ini berada di kabupaten Enrekang propinsi Sulawesi Selatan, pada koordinat 120°01’30″ BT – 03°23’01″ LS serta bukan merupakan gunung berapi. Akses rute normal pendakiannya berawal dari desa Karangaan


Kepulauan Maluku : Gunung Binaiya (3.027m dpl)





Gunung Binaiya yang merupakan puncak tertinggi di kepualan Ambon ini berada tepatnya di pulau Seram. Berdiri dengan ketinggian 3027m dpl dan berada pada posisi geografis 3° 10′ LS dan 129° 28′ BT.

Selain itu gunung ini juga mempunyai dua puncak lainnya yang mempunyai ketiggian 3019m dpl dan 3011m dpl. Gunung yang jarang dijamah pendaki gunung ini mempunyai tantangan tersendiri yaitu dikarenakan kita akan dihadapkan pada titik awal pendakian mulai dari 0 m dpl.


Gunung ini berada dalam ruang lingkup Taman Nasional Manusela yang mempunyai luas 189.000 ha. Curah hujan cukup tinggi di taman nasional ini, rata-rata 2000 mm per tahunnya, dan musim penghujan terjadi pada bulan November hingga April dan musim kemarau pada bulan Mei hingga Oktober.


Pulau Irian : Pegunungan Jaya Wijaya /Punak Cartenzs (4.884m dpl)





Puncak gunung tertinggi di pulau ini adalah merupakan juga puncak tertinggi di Indonesia dan juga masuk kedalam salah satu Seven Summit di tujuh benua dunia, yaitu Cartenzs Pyramid dengan ketinggian 4.884 m dari permukaan laut,


puncak Carstenzs berada didalam kawasan pegunungan Jaya Wijaya pada posisi 04º03’48″LS 137º11’09″BT, yang merupakan gunung karang (limestone), dan terdapat hamparan salju abadi dibeberapa tempat di pegunungan ini. Gunung yang berada di provinsi Papua ini bisa diakses lewat rute normal dari

desa Ilaga.


puncak Cartensz Indonesia patut berbangga dengan keunikan dan kekayaan alam serta tradisi masayarakatnya. Kali ini, Carstenz Pyramid atau yang bisa disebut dengan puncak jaya, juga berada di Papua. Puncak Carstensz ini merupakan puncak tertinggi di Australia dan Oceania. Mengapa tidak di Asia? Karena puncak tertinggi di Asia sudah dipegang oleh Gunung Himalaya yang ada di perbatasan India dan Cina.


http://hutantropis.com/7-puncak-tertinggi-di-indonesia

Sejarah Keris dari Jawa


Keris adalah senjata tikam khas Indonesia. Berdasarkan dokumen-dokumen purbakala, keris dalam bentuk awal telah digunakan sejak abad ke-9. Kuat kemungkinannya bahwa keris telah digunakan sebelum masa tersebut. Menteri Kebudyaan Indonesia, Jero Wacik telah membawa keris ke UNESCO dan meminta jaminan bahwa ini adalah warisan budaya Indonesia.


Penggunaan keris sendiri tersebar di masyarakat rumpun Melayu. Pada masa sekarang, keris umum dikenal di daerah Indonesia (terutama di daerah Jawa, Madura, Bali/Lombok, Sumatra, sebagian Kalimantan, serta sebagian Sulawesi), Malaysia, Brunei, Thailand, dan Filipina (khususnya di daerah Mindanao). Di Mindanao, bentuk senjata yang juga disebut keris tidak banyak memiliki kemiripan meskipun juga merupakan senjata tikam.

Keris memiliki berbagai macam bentuk, misalnya ada yang bilahnya berkelok-kelok (selalu berbilang ganjil) dan ada pula yang berbilah lurus. Orang Jawa menganggap perbedaan bentuk ini memiliki efek esoteri yang berbeda.


Selain digunakan sebagai senjata, keris juga sering dianggap memiliki kekuatan supranatural. Senjata ini sering disebut-sebut dalam berbagai legenda tradisional, seperti keris Mpu Gandring dalam legenda Ken Arok dan Ken Dedes.


Tata cara penggunaan keris berbeda-beda di masing-masing daerah. Di daerah Jawa dan Sunda misalnya, keris ditempatkan di pinggang bagian belakang pada masa damai tetapi ditempatkan di depan pada masa perang. Sementara itu, di Sumatra, Kalimantan, Malaysia, Brunei dan Filipina, keris ditempatkan di depan.


Selain keris, masih terdapat sejumlah senjata tikam lain di wilayah Nusantara, seperti rencong dari Aceh, badik dari Sulawesi serta kujang dari Jawa Barat. Keris dibedakan dari senjata tikam lain terutama dari bilahnya. Bilah keris tidak dibuat dari logam tunggal yang dicor tetapi merupakan campuran berbagai logam yang berlapis-lapis. Akibat teknik pembuatan ini, keris memiliki kekhasan berupa pamor pada bilahnya.


Bagian-bagian keris


Beberapa istilah di bagian ini diambil dari tradisi Jawa, semata karena rujukan yang tersedia. Sebagian ahli tosan aji mengelompokkan keris sebagai senjata tikam, sehingga bagian utama dari sebilah keris adalah wilah (bilah) atau bahasa awamnya adalah seperti mata pisau. Tetapi karena keris mempunyai kelengkapan lainnya, yaitu warangka (sarung) dan bagian pegangan keris atau ukiran, maka kesatuan terhadap seluruh kelengkapannya disebut keris.


Pegangan keris atau hulu keris

Pegangan keris (bahasa Jawa: gaman) ini bermacam-macam motifnya, untuk keris Bali ada yang bentuknya menyerupai patung dewa, patung pedande, patung raksaka, patung penari, pertapa, hutan, dan ada yang diukir dengan kinatah emas dan batu mulia.


Pegangan keris Sulawesi menggambarkan burung laut. Hal itu sebagai perlambang terhadap sebagian profesi masyarakat Sulawesi yang merupakan pelaut, sedangkan burung adalah lambang dunia atas keselamatan. Seperti juga motif kepala burung yang digunakan pada keris Riau Lingga, dan untuk daerah-daerah lainnya sebagai pusat pengembangan tosan aji seperti Aceh, Bangkinang (Riau), Palembang, Sambas, Kutai, Bugis, Luwu, Jawa, Madura dan Sulu, keris mempunyai ukiran dan perlambang yang berbeda. Selain itu, materi yang dipergunakan pun berasal dari aneka bahan seperti gading, tulang, logam, dan yang paling banyak yaitu kayu.


Untuk pegangan keris Jawa, secara garis besar terdiri dari sirah wingking ( kepala bagian belakang ), jiling, cigir, cetek, bathuk (kepala bagian depan),weteng dan bungkul.


• Warangka atau sarung keris

Warangka, atau sarung keris (bahasa Banjar : kumpang), adalah komponen keris yang mempunyai fungsi tertentu, khususnya dalam kehidupan sosial masyarakat Jawa, paling tidak karena bagian inilah yang terlihat secara langsung. Warangka yang mula-mula dibuat dari kayu (yang umum adalah jati, cendana, timoho, dan kemuning). Sejalan dengan perkembangan zaman terjadi penambahan fungsi wrangka sebagai pencerminan status sosial bagi penggunanya. Bagian atasnya atau ladrang-gayaman sering diganti dengan gading.

Secara garis besar terdapat dua bentuk warangka, yaitu jenis warangka ladrang yang terdiri dari bagian-bagian : angkup, lata, janggut, gandek, godong (berbentuk seperti daun), gandar, ri serta cangkring. Dan jenis lainnya adalah jenis wrangka gayaman (gandon) yang bagian-bagiannya hampir sama dengan wrangka ladrang tetapi tidak terdapat angkup, godong, dan gandek.


Aturan pemakaian bentuk wrangka ini sudah ditentukan, walaupun tidak mutlak. Wrangka ladrang dipakai untuk upacara resmi, misalkan menghadap raja, acara resmi keraton lainnya (penobatan, pengangkatan pejabat kerajaan, perkawinan, dll) dengan maksud penghormatan. Tata cara penggunaannya adalah dengan menyelipkan gandar keris di lipatan sabuk (stagen) pada pinggang bagian belakang (termasuk sebagai pertimbangan untuk keselamatan raja ). Sedangkan wrangka gayaman dipakai untuk keperluan harian, dan keris ditempatkan pada bagian depan (dekat pinggang) ataupun di belakang (pinggang belakang).


Dalam perang, yang digunakan adalah keris wrangka gayaman, pertimbangannya adalah dari sisi praktis dan ringkas, karena wrangka gayaman lebih memungkinkan cepat dan mudah bergerak, karena bentuknya lebih sederhana.


Ladrang dan gayaman merupakan pola-bentuk wrangka, dan bagian utama menurut fungsi wrangka adalah bagian bawah yang berbentuk panjang ( sepanjang wilah keris ) yang disebut gandar atau antupan ,maka fungsi gandar adalah untuk membungkus wilah (bilah) dan biasanya terbuat dari kayu ( dipertimbangkan untuk tidak merusak wilah yang berbahan logam campuran ).


Karena fungsi gandar untuk membungkus, sehingga fungsi keindahannya tidak diutamakan, maka untuk memperindahnya akan dilapisi seperti selongsong-silinder yang disebut pendok. Bagian pendok ( lapisan selongsong ) inilah yang biasanya diukir sangat indah, dibuat dari logam kuningan, suasa ( campuran tembaga emas ), perak, emas. Untuk daerah diluar Jawa ( kalangan raja-raja Bugis, Goa, Palembang, Riau, Bali ) pendoknya terbuat dari emas, disertai dengan tambahan hiasan seperti sulaman tali dari emas dan bunga yang bertaburkan intan berlian.


Untuk keris Jawa, menurut bentuknya pendok ada tiga macam, yaitu (1) pendok bunton berbentuk selongsong pipih tanpa belahan pada sisinya, (2) pendok blewah (blengah) terbelah memanjang sampai pada salah satu ujungnya sehingga bagian gandar akan terlihat, serta (3) pendok topengan yang belahannya hanya terletak di tengah. Apabila dilihat dari hiasannya, pendok ada dua macam yaitu pendok berukir dan pendok polos (tanpa ukiran).


• Wilah

Wilah atau wilahan adalah bagian utama dari sebuah keris, dan juga terdiri dari bagian-bagian tertentu yang tidak sama untuk setiap wilahan, yang biasanya disebut dapur, atau penamaan ragam bentuk pada wilah-bilah (ada puluhan bentuk dapur). Sebagai contoh, bisa disebutkan dapur jangkung mayang, jaka lola, pinarak, jamang murub, bungkul, kebo tedan, pudak sitegal, dll.


Pada pangkal wilahan terdapat pesi, yang merupakan ujung bawah sebilah keris atau tangkai keris. Bagian inilah yang masuk ke pegangan keris ( ukiran). Pesi ini panjangnya antara 5 cm sampai 7 cm, dengan penampang sekitar 5 mm sampai 10 mm, bentuknya bulat panjang seperti pensil. Di daerah Jawa Timur disebut paksi, di Riau disebut puting, sedangkan untuk daerah Serawak, Brunei dan Malaysia disebut punting.


Pada pangkal (dasar keris) atau bagian bawah dari sebilah keris disebut ganja (untuk daerah semenanjung Melayu menyebutnya aring). Di tengahnya terdapat lubang pesi (bulat) persis untuk memasukkan pesi, sehingga bagian wilah dan ganja tidak terpisahkan. Pengamat budaya tosan aji mengatakan bahwa kesatuan itu melambangkan kesatuan lingga dan yoni, dimana ganja mewakili lambang yoni sedangkan pesi melambangkan lingganya. Ganja ini sepintas berbentuk cecak, bagian depannya disebut sirah cecak, bagian lehernya disebut gulu meled, bagian perut disebut wetengan dan ekornya disebut sebit ron. Ragam bentuk ganja ada bermacam-macam, wilut, dungkul, kelap lintah dan sebit rontal.


Luk, adalah bagian yang berkelok dari wilah-bilah keris, dan dilihat dari bentuknya keris dapat dibagi dua golongan besar, yaitu keris yang lurus dan keris yang bilahnya berkelok-kelok atau luk. Salah satu cara sederhana menghitung luk pada bilah, dimulai dari pangkal keris ke arah ujung keris, dihitung dari sisi cembung dan dilakukan pada kedua sisi seberang-menyeberang (kanan-kiri), maka bilangan terakhir adalah banyaknya luk pada wilah-bilah dan jumlahnya selalu gasal ( ganjil) dan tidak pernah genap, dan yang terkecil adalah luk tiga (3) dan terbanyak adalah luk tiga belas (13). Jika ada keris yang jumlah luk nya lebih dari tiga belas, biasanya disebut keris kalawija, atau keris tidak lazim.



Tangguh keris

Di bidang perkerisan dikenal pengelompokan yang disebut tangguh yang dapat berarti periode pembuatan atau gaya pembuatan. Hal ini serupa dengan misalnya dengan tari Jawa gaya Yogyakarta dan Surakarta. Pemahaman akan tangguh akan membantu mengenali ciri-ciri fisik suatu keris.

Beberapa tangguh yang biasa dikenal:

• tangguh Majapahit

• tangguh Pajajaran

• tangguh Mataram

• tangguh Yogyakarta

• tangguh Surakarta.
Sumber:
http://id.wikipedia.org/wiki/Keris
keris.fotopic.net/

Sejarah Pariwisata Bali


Kalau pada zaman Romawi orang melakukan perjalanan wisata karena kebutuhan praktis, dambaan ingin tahu dan dorongan keagamaan, maka pada zaman Hindu di Nusantara / Indonesia khususnya di Bali telah terjadi pula perjalanan wisata karena dorongan keagamaan.

Perjalanan Rsi Markandiya sekitar abad 8 dari Jawa ke Bali, telah melakukan perjalanan wisata dengan membawa misi-misi keagaman. Demikian pula Empu Kuturan yang mengembangkan konsep Tri Sakti di Bali datang sekitar abad 11 kemudian Dang Hyang Nirartha (Pedanda Sakti Wawu Rawuh) pada abad ke 16 datang ke Bali sebagai misi keagamaan dengan titik berat pada konsep Upacara.

Perjalanan wisata internasional di Bali telah dimulai pada permulaan abad 20 dimana sebelumnya bahwa Bali diketemukan oleh orang Belanda tahun 1579 yaitu oleh ekspedisi (Cornellis de Houtman) dalam perjalanannya mengelilingi dunia untuk mencari rempah-rempah lalu sampai di Indonesia.

Dari Pulau Jawa misi tersebut berlayar menuju ke Timur dan dari kejauhan terlihatlah sebuah pulau yang merimbun. Dikiranya pulau tersebut menghasilkan rempah-rempah. Setelah mereka mendarat, mereka tidak menemukan rempah-rempah.

Hanya sebuah kehidupan dengan kebudayaannya yang menurut pandangan mereka sangat unik, tidak pernah dijumpai di tempat lain yang dikunjungi selama mereka mengelilingi dunia, alamnya sangat indah dan mempunyai magnet/daya tarik tersendiri. Pulau ini oleh penduduknya dinamakan Bali. Inilah yang mereka laporkan kepada Raja Belanda pada waktu itu.

Kemudian pada tahun 1920 mulailah wisatawan dari Eropa datang ke Bali. Hal ini terjadi berkat dari kapal-kapal dagang Belanda yaitu KPM (Koninklijke Paketcart Maatsckapy) yang dalam usahanya mencari rempah-rempah ke Indonesia dan juga agar kapal-kapal tersebut mendapat penumpang dalam perjalanannya ke Indonesia lalu mereka memperkenalkan Bali di Eropa sebagai (the Island of God).

Dari para wisatawan Eropa yang mengunjungi Bali terdapat pula para seniman, baik seniman sastra, seniman lukis maupun seniman tari. Dalam kunjungan berikutnya banyak para seniman tersebut yang menulis tentang Bali seperti :

Seniman Sastra

Dr Gregor Krause adalah orang Jerman yang dikirim ke Wetherisnds East Idies (Indonesia) bertugas di Bali pada tahun 1921 yang ditugaskan untuk membuat tulisan-tulisan dan foto-foto mengenai tata kehidupan masyarakat Bali. Bukunya telah menyebar ke seluruh Dunia pada tahun 1920 yang bersangkutan tinggal di Bangli.
Miguel Covarrubias dengan bukunya the Island of Bali tahun 1930
Magaret Mead
Collin Mc Phee
Jone Bello
Mrs Menc (Ni Ketut Tantri) dengan bukunya Revolt In Paradise
Roelof Goris dengan bukunya Prasasti Bali menetap di Bali tahun 1928
Lovis Conperus (1863-1923) dengan bukunya Easwords (Melawat ke Timur) memuji tentang Bali terutama Kintamani.
Seniman Lukis

R. Bonet mendirikan museum Ratna Warta
Walter Spies bersama Tjokorde mendirikan yayasan Pita Maha. Disamping dikenal sebagai pelukis ia juga mengarang buku dengan judul Dance dan Drama in Bali. Pertama kali ke Bali tahun 1925.
Arie Smith yang membentuk aliran young artist
Le Mayeur orang Belgia mengambil istri di Bali tinggal di Sanur tahun 1930 dengan Museum Le Mayeur di Bali 5. Mario Blanco orang Spanyol juga seorang pelukis beristrikan orang Bali dan menetap di Ubud.
Dan banyak lagi seniman baik asing maupun Nusantara disamping menetap, mengambil obyek baik lukisan maupun tulisan mengenai Bali. Dan tulisan-tulisan mengenai Bali mulai tahun 1920 sudah menyebar keseluruh Eropa dan Amerika.

Para Wisatawan asing yang sudah pernah ke Bali lalu menceritakan pengalaman kunjungannya selama di Bali kepada teman-temannya. Penyebaran informasi mengenai Bali baik karena tulisan-tulisan tentang Bali maupun cerita dari mulut ke mulut menyebabkan Bali dikenal di manca negara. Bahkan sampai saat ini nama Bali masih lebih dikenal umum dibandingkan dengan nama Indonesia di mancanegara.

Untuk mengantisipasi hal tersebut maka penyebaran informasi mengenai daerah tujuan wisata (DTW). Bali selalu mengutamakan nama Indonesia, baik itu penyebaran informasi melalui brosur-brosur maupun pada pameran-pameran yang diadakan di negara asing. Sehingga dengan demikian diharapkan nama Indonesia lebih dikenal dan dipahami bahwa Bali adalah salah satu propinsi yang ada di Indonesia dan merupakan bagian dari Indonesia, bukan sebaliknya.

Untuk menampung kedatangan wisatawan asing ke Bali maka pada tahun 1930 didirikanlah hotel yang pertama di Bali yaitu Bali Hotel yang terletak di jantung kota Denpasar, disamping itu juga ada sebuah pesanggrahan yang terletak di kawasan wisata Kintamani.

Pesanggrahan sangat strategis untuk dapat melihat pemandangan alam Kintamani yang unik dan mempunyai daya tarik tersendiri di mata wisatawan, bahkan pesanggrahan tersebut sangat strategis untuk menyaksikan saat Gunung Batur meletus maupun mengeluarkan asap.

Menurut kepercayaan masyarakat setempat, saat Gunung Batur meletus banyak roh-roh halus menyebar di sekitar Kintamani, karena itu masyarakat setempat membuat upacara agar ketentraman Desa terpelihara.

Pada saat Gunung Batur meletus pada tahun1994 yang lalu kawasan Kintamani makin banyak dikunjungi wisatawan yang ingin menyaksikan atraksi kegiatan Gunung Batur. Dan masyarakat setempat pun kebagian rezeki dari kunjungan tersebut.

Nama Bali makin terkenal setelah pada tahun 1932 rombongan Legong Peliatan melanglang buana ke Eropa dan Amerika atas prakarsa orang-orang asing dan pada tahun berikutnya makin banyak saja seni tari Bali yang diajak melanglang buana ke mancanegara. Selama pementasan selalu pertunjukan tersebut mendapat acungan jempol.

Makin terkenalnya nama Bali di mancanegara, kunjungan wisatawan asing makin banyak datang ke Bali. Berbagai julukan diberikan kepada Bali antara lain :

The Island of Gods
The Island of Paradise
The Island of Thousand Temples
The Morning of The World oleh Pandit Jawahral Nehru
The Last Paradise on Earth dan lain sebagainya.
Kesemarakan Pariwisata Bali pernah terhenti karena meletusnya Perang Dunia I tahun 1939 - 1941 dan Perang Dunia II tahun 1942-1945 dan dilanjutkan dengan Revolusi Kemerdekaan RI tahun 1942-1949.

Baru pada tahun 1956 kepariwisataan di Bali dirintis kembali. Pada tahun 1963 didirikan Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach sekarang) dan diresmikan pada bulan November 1966. Hotel Bali Beach (Grand Bali Beach) mempunyai sejarah tersendiri dimana merupakan satu-satunya hotel berlantai 9 (sembilan) tingginya lebih dari 15 meter.

Hotel ini dibangun sebelum ada ketentuan bahwa bangunan di Bali maksimal tingginya 15 meter, sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Kdh. Tk. I Bali tanggal 22 November 1971 Nomor 13/Perbang. 1614/II/a/1971. Isinya antara lain bahwa bangunan di Daerah Bali tingginya maksimal setinggi pohon kelapa atau 15 meter.

Hotel Bali Beach dibangun atas biaya dari rampasan perang Jepang. Hotel tersebut pernah terbakar pada tanggal 20 Januari 1993, pada saat hotel tersebut terbakar terjadi keanehan yaitu kamar nomor 327, satu-satunya kamar yang tidak terbakar sama sekali.

Setelah Hotel Bali Beach diresmikan pada bulan November 1966 maka bulan Agustus 1969 diresmikan Pelabuhan Udara Ngurah Rai sebagai pelabuhan internasional. Kepariwisataan di Bali dilaksanakan secara lebih intensif, teratur dan terencana yaitu ketika dimulai dicanangkan Pelita I pada April 1969.

* taken from baliaga.com

Successfully, Santana at JAVA JAZZ, Jakarta

Two days, Santana successfully performed in front of fans of all ages, in a jazz concert of 2011. "Remarkable Indonesia, Harmony One Nation Under" became the theme of the annual jazz concert, held at Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta.

Friday through Saturday afternoon, queuing spectators packed the area of Jakarta International Expo, Kemayoran, Jakarta. to watch the inaugural concert of the legendary jazz musician that. Santana one of the main star in the Java Jazz 2011, managed to entertain the masses of various ages and across generations.

In a press conference Friday afternoon (4/3/11), which was brief, Santana, who wore a distinctive white hat and floral dress that reveals her happiness may appear to greet and entertain fans-Pengemar in Indonesia.

The success and satisfaction for the Java Jazz, including Peter F. Gontha the initiators of this jazz festival concert successfully menampilakan Santana, after several delays. Thanks to Santana, the Java Jazz 2011 tickets outside the show organizers predicted, has sold more than 10 thousand pieces per concert. Java Jazz also claim to have created a new record with a total overall tickets sold over 150 thousand shares. Ticket special and separate from daily admission tickets, to see the action stage, the legendary guitarist himself as much as 20 thousand more sold out sold out.

Friday night, 21:00 pm, the inaugural appearance of guitarist born July 20, 1947 a bloody US-Mexico was opened to the accompaniment of national anthem "Indonesia Raya" just a few minutes before Carlos Santana appears above panngung. The audience can not wait to see guitarist showed his guitar a beautiful action game. Message from the applause and screams hysterically for about five thousand spectators felt from the opening until the end of the concert.

The strains of guitar and music performed, such as "Black Magic Woman," "Jingo," "Oye Como Va," "Mary, Mary" and "Smooth", successfully shake up the fans. As usual, every intro song is played, the audience became hysterical. Seen a few among the crowd of spectators who crowded to dance and sing along to music santana. Thunderous applause broke out in every song was finished playing.

After an hour and a half Santana show, the audience still wanted santana play the songs that started it famous since 1966. The audience shouts, "We want more, more, Santana, ..." echoed in the room hall D2 Axis Hall.

Santana concert on the second day, the audience Saturday night was even crazier than the first day. Carlos santana, is scheduled to appear at 22:30 pm, but was delayed for 15 minutes. Outside, the high enthusiasm of the fans seemed to not want to miss one moment to witness the appearance of the musicians adored it.



Above the stage, Santana wearing a brown patterned shirt and wearing a blue striped cowboy hat held up his hands. Greetings and a warm smile thrown in his opening itu.konser this second appearance, a special greeting from santana, a few brief opening words "I dedicate this concert to women, this is for women. Because women who make us happy, enjoy it, "he said. The audience was boisterous and happy can not wait until the Mexican man was holding his guitar and started to warm up.

No less exciting than previous appearances, on the second day Santana appear more terrible and intense. The song "Mary, Mary"became a concert opener, followed by death liukan flowing guitar melody in the middle of pounding drums, bass shreds, and the wail of trumpets, a mainstay santana, for 1.5 hours in entertaining an audience of approximately more than 5000 people packed the hall at second day.

Complacency can be seen from expression Santana audience at the end, they hope Santana will hold a special concert next year.

Sammy Hagar: 'I Would Love to Make Another Record With Van Halen'

Discussing his new memoir, he says there's a '90 percent chance' the band will reunite – 'if Eddie was totally cool'
Sammy Hagar's new autobiography Red: My Uncensored Life In Rock (in stores on March 15th) traces the singer's long career from his days in the 1970s hard rock band Montrose to his insane ride in Van Halen through the formation of his supergroup Chickenfoot.
The new issue of Rolling Stone (on sale and in the online archive Friday) has an exclusive excerpt focusing on Van Halen's disastrous 2004 reunion tour that was nearly derailed due to Eddie Van Halen's alcoholism. We chatted with Hagar about why he decided to write the book - and whether or not he'd ever return to Van Halen. (For more on the book check out Hagar's website.)

Vai: "World's Largest Online Guitar Lesson"

Be a part of history and help set a world record with Steve Vai. Berkleemusic.com and Steve Vai will be attempting to set a Guinness world record for the most participants in a free online guitar lesson live from New York City at 1:30 p.m. EST on Thursday, March 3rd, 2011! Log on from anywhere in the world.  Learn tips, techniques, and real-world skills from one of the most recognizable guitar players on the planet. Come back to this page on March 3rd to take part in this groundbreaking FREE lesson!




Have a question for Steve?
Steve will be answering a few questions from the online community after his live lesson! Submit yours by visiting Berkleemusic.com


The Two Faces of the Telecaster

If there was ever a guitar with a split personality, it’s the Telecaster.

On the one hand, it’s universally regarded as the number-one country electric guitar. The Telecaster was built for western swing guitarists, introduced by that name in 1951 and thus pre-dating rock ‘n’ roll by nearly half a decade. Its bright signature twang became one of the defining and enduring sounds of country music, and it was the electric guitar of choice for pioneer hit makers such as Merle Haggard, Buck Owens and Waylon Jennings, and for noted sidemen such as James Burton and Luther Perkins. More than half a century later, the Telecaster’s status as the king of country hasn’t diminished a bit. It’s still preferred by the sharpest players and songwriters atop the modern country charts—artists such as Brad Paisley, Marty Stuart, Vince Gill, Keith Urban and many others.

Far removed from the twang of Nashville and Bakersfield, though, the Telecaster has led a fascinating double life. For on the other hand—and often on the other side of the Atlantic—the Telecaster has been the weapon of choice for some of rock’s most inventive legends, innovators and iconoclasts.

Rock ‘n’ roll embraced the Telecaster with open arms and open minds. Rock royals Keith Richards, George Harrison, Pete Townshend, Eric Clapton, Jeff Beck and Ray Davies have all played it. So did 1960s psychedelic godfathers Syd Barrett and Jimmy Page. In the mid-1970s, punk patriarch Joe Strummer led a revolution while brandishing a Telecaster. Later that decade, the Police at first flew the punk flag but made no attempt to disguise the smart chops and startling creativity of Andy Summers, who forged a widely imitated post-punk guitar sound with his battered Telecaster as the trio rose to chart-topping world success in the 1980s. A decade later in the mid-1990s, an inventive new generation of Britpop guitarists emerged, led by Blur’s Graham Coxon and Radiohead’s Johnny Greenwood, both of whom were devoted Telecaster players.

How strange and wonderful then that the same guitar that is the plaintive sound of Waylon Jennings’ sly “Mental Revenge” (1966) is also the seismic sound of one of rock’s most famous debut albums, Led Zeppelin (1969).

And how interesting that the same electric guitar that was put to such dexterous use in the 1950s by lightning-fast western swing ace Jimmy Bryant still exists in the 2000s—and basically unchanged, at that—and is put to equally nimble use by Rob Zombie’s talented shredder, John 5.



The Telecaster provides the main instrumental sound of both these albums, 1969’s Led Zeppelin (above) and Brad Paisley’s 2009 American Saturday Night.



How curious, too, that the same electric guitar that the great Muddy Waters once used to electrify the Delta blues so forcefully in the 1940s and ’50s is the same guitar that bemasked Slipknot guitarist Jim Root currently uses to pulverize metal audiences worldwide.

The Telecaster inhabits different musical worlds that couldn’t possibly be farther apart, yet it manages to sound right at home on a foot-tapping ’60s-era Buck Owens single, an atmospheric ’70s-era Pink Floyd album, a chiming ’80s-era pop hit by the Pretenders, an artsy ’90s-era electronic excursion by Radiohead and a 2000-era de-tuned nu-metal onslaught by Slipknot.

All this from the greatest country music guitar ever. Indeed, the Telecaster still rules the form for which it was intended and invented. Real country music still sounds the way it does because a Telecaster still sounds like, well, like itself.

No other famous electric guitar model seems to enjoy such a musically versatile dichotomy. You think of the Telecaster’s ubiquitous sibling, the Stratocaster®, and you think mainly of famous rock players and blues legends. It’s not necessarily the first electric guitar that leaps to mind at the mention of country music even though plenty of country players swear by it. As indispensable as the Stratocaster is, it doesn’t have quite the air that its older brother has that it naturally lives in two different places at once.

The Telecaster does leap to mind at the mention of both country music and rock music. And as modern music continues to grow around the Telecaster, the more unusual that feat seems. And so perhaps we shouldn’t say that the time-honored Telecaster suffers from a split personality. Rather, we should say that the Telecaster enjoys a split personality. The great players and forces that drive the creation of music, it appears, wouldn’t have had it any other way.

Underrated Rock Guitarists

Jake E Lee

Ozzy Osbourne's "other" guitarist, Jakey Lou Williams was for a long time the "also-ran" guitarist who joined bands and then left before they got famous - he did this with Mickey Ratt, who later became RATT, with Rough Cutt, and in Dio - each time not staying long enough to contribute to the band'sdebut release. His turn came around however, joining Ozzy Osbourne after the untimely demise of Randy Rhoads. He played on Bark At The Moon, and then on The Ultimate Sin, both of which are some of Ozzy Osbourne's strongest material. He is often overlooked however, due to the iconic status of Randy Rhoads, and the imposing presence of the man who replaced him, Zakk Wylde. He left Ozzy Osbourne's band in 1987, briefly playing in the band Badlands before fading to a relative obscurity.


Micky Moody

So many high profile guitar heroes have done a stint in Whitesnake, including such famous names as John Sykes, Steve Vai, Warren DeMartini and Vivian Campbell, that Michael Joseph "Micky" Moody is often overlooked and not given his due. Micky Moody, however, was the original guitarist, and played on nine of the band's albums - more than half of the band's catalogue! His tenure in the band was for 6 years, making him one of the longest serving guitarists in the band - On this score he is edged out by Adrian Vandenberg, Reb Beach and Doug Aldrich - however he probably takes solace in the fact that these guys devote a significant amount of their time reprising music that he created.


Craig Goldy

Another alumnus of the LA band Rough Cutt, Craig Goldy stayed in the band long enough to contribute to their early material. He followed a similar path to Jake E Lee by moving from that band to play in Dio, this time after the band had had two extremely succesful albums with guitarist Vivian Campbell. He contributed to the albums Dream Evil, Master of the Moon, and Magica - some of the very favourites for die-hard Dio fans. He was the last guitarist in the band, although was replaced on tours by Doug Aldrich for some dates, due to hand injuries.


Ross The Boss

Ross "The Boss" Friedman invented New York Punk, and then went on to play heavy metal in the loudest band in the world. In 1973 he cofounded The Dictators, the New York rock band that invented punk music. This band, along with the New York Dolls, influenced the punk rock bands that came later in the '70s and caused much public controversy, including The Ramones and The Sex Pistols.

By 1978, after three albums, The Dictators had disbanded and Ross The Boss had become a guitarist for hire. In 1980, backstage at a Black Sabbath concert in England, Ross The Boss met Joey DeMaio and together they founded Manowar, who went on to become one of the biggest bands in heavy metal, and still hold the world record for being the loudest band ever.

As a guitarist, Ross The Boss was a master of "tight but loose", playing with conviction and feel, with one foot in the blues and one foot in shred guitar. At the moment he plays in The Dictators as well as in the Ross The Boss Band.


Tracii Guns

The founder of LA Guns, and of Guns N Roses, Tracii Guns never quite became the household name that many of his contemporaries like Slash, Axl and Nikki Sixx did. This is a shame, because he is one of the best songwriters, performers and musicians of that era. A man who effortlessly and seamless combined blues, rockabilly and country with punk, rock, shred and metal, he's one of only very few guitarists who can claim to be both versatile and uniquely idiosyncratic. Tracii guns still plays in LA Guns today, and now uses a Floyd Rose equipped Telecaster-style electric guitar along with Marshall amplifiers.

Dan Hawkins

The "other" guitarist in The Darkness, Dan Hawkins was often overshadowed by his by his older brother Justin Hawkins, the flamboyant singer/electric guitar player/frontman for the band. It's easy to see why Justin got so much of the limelight - his falsetto singing, stage poses, adventurous outfits and outrageous performances onstage, and his hijinks and misadventures offstage were always bound to get the most attention from critics, journalists and fans alike. But the whole time while Justin was running around, pouting, and drinking enough champagne to drown Andorra, Dan Hawkins was there laying down the riffs and the hooks that made the band famous. With a killer tone delivered by the classic pairing of a Gibson Les Paul and a Marshall stack, he was also a key songwriter for the band, and was involved in the production of the albums. He now plays in the band Stone Gods.

How to Get a Guitar Sound Like Tom Morello

For anyone who doesn't know, Tom Morello was the lead guitarist in two of the most awesome bands of the last 20 years, Rage Against the Machine and Audioslave and he was responsible for single handedly creating some of the most unique and innovative guitar sounds ever heard, using only the instrument and a handful of guitar effects pedals. He also had a shed-load of talent of course, and while I can't help you out much in that department, I can offer some advice on the effects pedals he favours. So if you want to sound like to the man himself, here are the top three pedals that Mr. Morello actually uses, to get you halfway there:

1. Digitech Whammy

The Digitech Whammy pedal is a pitch shifter that Tom uses to throw the sound of his guitar up or down an octave or two just by pressing down on the in-built expression pedal. This pedal is really versatile and it can also do harmonizing and detuning effects. So if you only buy one pedal to make you sound like Morello, this is the one you should go for.

2. Boss DD-2 Delay

The Boss DD-2 Delay was launched way, way back in 1983 believe it or not. In my opinion, a delay pedal is an essential piece of equipment in anyone's set up, whether it's this one or another more modern delay box. Tom Morello uses the Boss DD-2 with a short slapback delay to make it sound like he's playing twice as fast as he actually is - particularly with the scratching and muted tapping techniques that he uses.

3. Jim Dunlop Crybaby Wah

It doesn't necessarily have to be the Crybaby Wah, you could use any wah-wah pedal really, but the Jim Dunlop Crybaby is the pedal Morello uses and probably the industry standard. Wah-wah effects have been used throughout the years by pretty much everyone, probably most famously by Jimmi Hendrix, but Morello often uses the wah in the forward position (without rocking the expression pedal at all) purely just to get a nice 'trebly' tone.

So there you have it. Whack these three in between your guitar and amp and you'll be halfway there to sounding like Tom Morello and rocking out the solo from 'Killing in the Name' in no time.

Peter Eades is a writer living an working in the UK. He is writing here on behalf of Boss-pedals.co.uk, a website providing reviews and demos of Boss effects pedals including Boss Delay pedals.

Epiphone EJ200CE Buyer's Guide

Epiphone takes its famous guitar reputation to another level with the Epiphone EJ200CE cutaway acoustic electric guitar. The guitar is based on Gibson's flagship Hummingbird series and enhances overall flexibility and playability with addition of the cutaway & electronics.

If you are seeking a wonderful sounding acoustic electric guitar and are considering buying an Epiphone EJ200CE, here are some points about this great musical instrument and suggestions for purchasing one without emptying your wallet.

Epiphone Sound Magic

The Epiphone EJ200CE is constructed with the sound which has made the series well-known: a great, clean ambient acoustic sound.

What makes this instrument's sound special is the almost perfect sound on higher registers with deep, resonant tones from the lower registers even if played with no amplification.

The guitar then takes this sound and reproduces it perfectly when amplified. Epiphone have achieved this with their eSonic2 system and 'NanoFlex' pickup, which is equipped with seven sensitive sensors which amplify string vibrations and resonance from guitar body.

So string bends and slides aren't lost in amplification, making it ideal as a lead or rhythm instrument.

Vintage meets Modern

The guitar features exquisite structure and design. The guitar has a jumbo Maple body, that is amazingly light-weight, and a solid Spruce top.

The fretboard is Rosewood with nicely designed crown inlay, Maple neck and features body, neck and headstock binding. Epiphone have retained a significant feature from the Hummingbird: the ornate, floral pick guard design and included the Epiphone mustache bridge.

The class of this guitar is seen in gold hardware, that sets perfectly against the Natural, Black or Vintage Sunburst finishes.

How to get

The Epihone is created as a low priced guitar although sound, building and playability make this the ideal choice for starters or specialists as well.

Before purchasing, make sure to play it with and without amplification to make sure that the quality of sound is excellent. You need to make sure that string intonation is correct.

Check out the guitar finish against a light for blemishes or tiny scratches. When you're satisfied with the sound, intonation, amplification and design, one last check out the balance of the guitar and you might make sure that your musical instrument is a great choice, that will last you for years in the future.

Good luck with your guitar search.

Looking to find the best deal on an Epiphone ej200ce guitar, then visit http://epiphone-acoustic-electric-guitar.com/ to find the best advice on locating a great deal on this awesome-sounding guitar.

Duff McKagan dikonfirmasi Tampil di Birmingham Guitar show

Guitar Shows, penyelenggara Guitar Birmingham mendatang Show, telah mengumumkan bahwa anggota pendiri legendaris Guns N 'Roses, Velvet Revolver dan Loaded, Duff McKagan  untuk menghadiri acara tersebut antara 26-27 Februari 2011.

Muncul dalam hubungannya dengan string Rotosound, bassist / gitaris McKagan akan melakukan sesi penandatanganan beberapa SAAT selama di Birmingham Guitar Show, memungkinkan pengunjung kesempatan untuk mendapatkan dekat  dengan salah satu ikon rock yang paling populer dari generasinya.

Tampilkan manajer Jason Hunt berkata, "kami senang untuk dapat menyambut Duff untuk menunjukkan. Dia menjadi inspirasi bagi musisi rock selama dua dekade, jadi kami sangat senang bisa memberikan pengunjung kesempatan untuk bertemu seorang legenda, Duff. benar-benar menambah lapisan gula pada kue apa yang menjanjikan untuk menjadi akhir pekan besar. "

Tiket untuk Birmingham Guitar Tampilkan adalah harga £ 8,50 di muka dan £ 10 di pintu. Tidak ada biaya pemesanan dan parkir di Bingley Hall adalah gratis.

Slash Konfirmasikan Corey Taylor tentang rumor Velvet Revolver

Slash telah mengakui rumor tentang Corey Taylor terlibat dengan Velvet Revolver adalah benar - tetapi keputusan akhir belum dibuat. Gitaris tersebut telah menghindari  suatu komentar atas gosip, sedangkan Slipknot dan Stone Sour frontman hanya berkata: "Untuk dilanjutkan."

Sekarang tampak gambaran yang akurat tentang situasi: karena komitmen Slash's tur band kehabisan waktu untuk memutuskan apakah akan membawa Taylor sebagai pengganti Scott Weiland, yang saked pada tahun 2008.

Slash menceritakan Charlotte Observer: "Ada kebenaran pada desas-desus bahwa kita sedang melihat Corey - tapi kemudian aku pergi untuk tur Jadi tak ada yang dilakukan pada saat putusan No !..."
Perilaku tidak patuh Weiland dan masalah narkoba diminta pemindahannya tiga tahun lalu, setelah band ini melanjutkan hiatus. Slash sebelumnya berkomentar bahwa itu "hanya nasib buruk" dia punya masalah dengan frontmen nya - mengacu pada runtuhnya GNR ketika Axl Rose mengambil alih  di pertengahan 1990-an.

Sekarang gitaris mengatakan: "Pengemis tidak dapat memilih. Yang paling penting adalah untuk menemukan orang yang mampu bermain musik, maka Anda harus mengambil kepribadian mereka dengan alasan jika mereka memainkan cara Anda..

"Banyak musisi yang gila -. Itu yang membuat mereka menjadi musisi besar"

Putusan tampaknya tidak berlaku untuk Taylor, bagaimanapun, secara luas dianggap sebagai karakter yang seimbang. McKagan minggu lalu menggambarkan dia sebagai "seorang pria dingin dan musisi keren."

Pemenang kompetisi band untuk IBC 27

Juara 1:The Lionel Young Band (Colorado Blues Society)
Juara 2: The Mary Bridget Davies Group (Kansas City Blues Society)
Juara 3: Rob Blaine's Big Otis Blues (Windy City Blues Society)

Rob memenangkan penghargaan Best Guitarist yang merupakan Gibson custome 335 dan Kategori 5 amp.

Stephane Bertolino memenangkan pertama kalinya Best Player Award Harmonika disajikan oleh Lee Oskar. Stephane dalam Awek band Perancis, yang disponsori oleh Blues Sur Seine.

Untuk Solo / Duo :

Juara 1: George Schroeter & Marc Breitfelder, dari Jerman, yang disponsori oleh Baltik Blues.

Juara 2: Harrison Kennedy, representing Canal Bank Shuffle in Ontario, Canada.

Untuk pertama kalinya dalam sejarah , hadiah tertinggi dalam kompetisi band adalah mantan solo / duo pemenang kategori. IBC 2008 solo / duet Lionel pemenang Young kembali dengan The Young Lionel Band untuk menang atas nama Colorado Blues Society. Kedua tempat kehormatan yang diterima oleh Mary Bridget Davies dari Kansas City Blues Society, dan tempat ketiga adalah Rob Blaine's Otis Big Blues dari Windy City Blues Society.
Acara lain pertama adalah menganugerahkan KPI's Best Harmonika Player. Namun lain peserta internasional, Stephane Bertolino dari Awek band Prancis, won untuk Blues Sur Seine.

Gitaris Terbaik Penghargaan diberikan kepada Rob Blaine Blaine's Otis Big Blues. Dia bermain indah dengan gitar Gibson kustom, dengan logo biru blues Foundation dan Kategori 5 amp.

Dalam Terbaik Diproduksi Self-kontes CD, para hakim dinobatkan 'Get Inside ini House' oleh Joe McMurrian dari Cascade Blues Association di Portland, OR.

Para finalis solo / duo kategori adalah: Kembali Serambi Stomp - (Washington Blues Society, WA), Izzy & Chris (West Virginia Blues Society), The Juke Joint Devils (Massachusetts Blues Masyarakat), The Mighty Orq (Houston Blues Society, TX) Adam, Jim Big & Stilwagen John (Colorado Blues Society) dan Blues JT (Billtown Blues Association, PA).

Para finalis dalam kompetisi band: Randy Oxford Band (Selatan Asosiasi Sound Blues, WA), Stevie J & the Letusan Blues (Tengah Mississippi Blues Society, MS), Grand Marquis (Topeka Blues Society, KS), Alex Wilson (Grafton Blues Asosiasi, WI), Nabi Gula The (Illinois Tengah Blues Club),
Blues Society di seluruh dunia akan segera mulai lagi untuk berkompetisi sendiri untuk menentukan siapa yang akan mereka kirim ke 28 International Blues Challenge, final yang akan dipentaskan 31 Januari - 4 Februari 2012.

International Blues Challenge (IBC) adalah pencarian internasional oleh The Blues Foundation dan organisasi-organisasi afiliasinya (lokal blues society dari seluruh dunia) untuk Blues Band dan Solo / Duo yang siap untuk keluar dan tampil di panggung nasional .

Kompetisi ini memberikan pemaparan memenangkan tindakan sangat berharga dan telah disebut "lebih berharga dari $ 100.000 dalam pemasaran" untuk band yang menang.

Buddy Guy bicara Blues

Dia adalah seorang pahlawan untuk semua orang dari Eric Clapton ke Jimi Hendrix. Ia bermain dengan hampir setiap bintang blues utama dari 70 tahun terakhir. Dan dia masih mencabik turun secara teratur di klub sendiri di Chicago. Dialah, tentu saja, Buddy Guy - dan ia duduk baru-baru ini dengan ClashMusic untuk berbicara tentang musik yang telah menjalari pembuluh darahnya selama 74 tahun.

"Saya bermain musik tidak peduli apa," kata Guy, saat ia menoleh ke belakang pada masa mudanya. "Tapi aku tidak melihat  karir dari itu, karena saya tidak berpikir saya cukup baik. Saya bermain gitar karena cinta musik. Saya tidak melihat saya membuat kehidupan yang layak keluar dari bermain gitar. Aku tujuh puluh empat-tahun-dari sekarang. Ketika aku berusia lima belas tahun-tahun, Anda tidak bisa mencapai di luar sana dan menemukan pemain gitar berbuat baik seperti sekarang ini, di mana beberapa pemain gitar membuat jutaan dolar. Apakah tidak ada hal seperti itu. "

Ia melanjutkan, "Anda melihat Arthur Crudup dan  Lightnin’ Hopkins dan mereka fellas seperti T-Bone Walker: mereka adalah orang-orang yang sedang bermain musik blues itu, dan aku membayangkan mereka akan membuat cukup untuk membeli sebotol anggur atau mungkin mendapatkan hamburger atau sesuatu seperti itu, tapi mereka tidak akan  seperti itu. Saya merasa senang pertemuan Lonnie Johnson - Aku tidak bertemu Robert Johnson - tapi aku bertemu Fred McDowell, Son House dan orang-orang seperti itu, dan aku bertemu mereka sebelum mereka meninggal dunia, dan mereka hanya turun di Mississippi bermain untuk minum pada akhir pekan - apa yang mereka sebut Goreng Ikan Sabtu Malam. Aku seperti mengatakan aku ingin melakukan itu, karena itulah yang ingin saya lakukan. Aku tidak mengatakan suatu hari aku akan berbicara dengan Anda dan membuat kehidupan yang layak keluar dari bermain gitarku. "

Guy ingat yang memerintah dari gaya liar bermain dengan pendiri Chess Records Leonard Catur - sampai Chess mulai mendengar musik yang sama yang dimainkan oleh seniman Inggris tahun 1960-an.

"Mereka tidak akan memberi saya kesempatan sampai orang-orang Inggris meledak, kemudian Leonard [Chess] kembali - saya pikir itu mungkin empat atau enam bulan sebelum ia meninggal dunia - dan ia dikirim Willie Dixon ke rumah saya. Dia berkata, 'Pergi mendapatkan [sumpah serapah]' - jika Anda tahu apa yang saya maksud - Dan aku turun dan dia berkata, "Man, kau sudah berusaha untuk memberikan hal ini sejak Anda dan membawa dia." datang ke sini dan kami itu [sumpah serapah] terlalu bodoh untuk mengerti. Dan itu menjual, dan itu panas, karena orang-orang Inggris bermain itu.

"Dan ia mengenakan rekaman, saya pikir oleh Hendrix atau Cream, dan kemudian dia berkata," Kau datang ke sini sekarang dan melakukan apa yang Anda inginkan. "Dia tidak tinggal terlalu lama setelah itu. Tapi aku masuk ke sana melakukan itu, karena saya disalin bahwa barang-barang dari Guitar Slim akhir dan T-Bone - mereka sedang memakai sebuah acara dengan gitar. Aku tidak sebaik pemain gitar seperti beberapa orang-orang seperti Wayne Bennett, Matt Murphy, Earl Hooker - aku bisa terus  - tapi aku masih menganggap diriku di sekolah. Ketika saya melihat Muddy dan BB dan mereka bermain, aku bahkan tidak ingin mereka tahu aku di rumah setelah mereka harus tahu saya, karena saya ingin menyelinap masuk dan menonton mereka dan belajar sesuatu. "

Musik DVD Review: Johnny Winter -Live di '80's

Johnny Winter telah menulis secara rutin 'merek' yang sangat baik tentang rock / blues selama lebih dari empat puluh tahun. Dari akar Texas, untuk Woodstock, untuk puluhan album yang sukses secara komersil dan kritis, ke peringkat nomor 74 pada daftar Rolling Stone Magazine The 100 Gitaris Greatest Of All Time, Johnny Winter telah membawa energi dan keterampilan untuk fusion rock dan blues.

Rilis terakhirnya adalah hanya di bawah dua jam. DVD berjudul Live Through '80 's. Ia mengambil LIVE-nya di tujuh tempat yang berbeda. Itu semua menambah hingga tujuh belas track blues yang sudah ada atau penggemar Johnny Winter tidak akan mau untuk melewatkannya.

Semua pertunjukan yang dilakukan sebagai basic trio. Jon Paris adalah pemain bass dan Tom Compton adalah pemain drum kecuali untuk set pertama di mana Bobby Torello adalah perkusi.

Empat lagu pertama tercatat 6 April 1983 di Massey Hall di Toronto. Langkah gemilang dari klasik tua Sonny Boy Williamson, "Unseen Eye." Ini adalah jauh lebih unggul dari versi dalam studio . Juga diperhatikan adalah tentang "Sweet Papa John" dan sebuah ramuan ke modeRock untuk "It's All Over Now."

Kami bekerja disisi kinerja Jun 29, 1984 di Roskilde, Denmark untuk beberapa lagu yang lebih dikenal sebagai penutup. "Jumpin 'Jack Flash," "Highway 61," dan "Johnny B. Goode" semua dilakukan di depan kerumunan 100.000 orang.

November 1984 tampil di Teater Capital di Passaic, New Jersey. "When You’ve Got A Good Friend" menyajikan presisi tanpa cela dengan baik.

Sebuah selingan yang menarik menyajikan video musik 1984 untuk “Don’t Take Advantage Of Me" yang diterima bermain sangat keras di MTV pada saat itu. Ada juga wawancara di mana ia memainkan solo gitar listrik.

1987 tampil di Swedia untuk penampilan televisi. "Sound Bell" dan salah satu lagu signature, "Mojo Boogie" apenyajian dengan latihan yang bagus.

Segmen terakhir dia tampil di Pistoia Blues Festival di Italia, 1 Juli 1988. Nomor The slow blues “Early In The Morning” versi terik “Serious As A Heart Attack” membawa DVD pada sebuah kesimpulan yang memuaskan.

Live di '80 'adalah contoh bagus Johnny Winter pada live yang terbaik. Jika ada yang lebih baik daripada mendengar Johnny Winter memainkan blues, berarti melihat dia bermain blues.

Pete Townshend, Eric Clapton sumbangkan Guitars Untuk Pelelangan Blues Benefit

Gitaris rock legendaris Inggris Pete Townshend dari The Who dan Eric Clapton yang menyumbangkan gitar untuk dilelang selama Music Maker Relief Foundation Legendaris Rhythm & Blues Cruise, yang keluar pada 22-29 Januari. 2011
Townshend telah menyumbangkan gitar Gibson SG ditandatangani, sementara selain menyumbangkan gitar, Clapton juga beramal sebesar 5.000 poundsterling Inggris ke yayasan sebagai insentif untuk penggemar blues untuk berkontribusi pada lelang .
Fans bisa membuat tawaran pada gitar walaupun mereka tidak di berada diatas kapal pesiar. Untuk membuat sebuah tawaran, kirim e-mail ke Denise Duffy di denise@musicmaker.org atau hubungi (919) 643-2456. Penawaran dimulai pada minimal $ 4.000, kata Tim Duffy, presiden Music Maker.
Semua hasil dari lelang akan menguntungkan Musik program pembuat, yang meliputi hibah, dan bantuan lainnya untuk musisi blues, dan juga musisi yang memainkan berbagai bentuk musik tradisional Amerika.
Musisi menerima bantuan dari organisasi harus memainkan musik berakar pada tradisi daerah Selatan, menjadi 55 tahun atau lebih dan memiliki pendapatan tahunan kurang dari $ 18.000.

Eric Clapton to auction guitars for rehab charity

British musician Eric Clapton will sell more than 70 guitars from his personal collection in an auction in New York in March, with the proceeds going to his drug and alcohol rehabilitation center in Antigua.

Bonhams auctioneers will conduct the March 9, 2011 sale, which also includes instruments donated by Jeff Beck, J.J. Cale and Joe Bonamassa.

Featured in the auction are instruments and amps by Fender, Gibson, Marshall, Martin and Music Man, among others. Estimates for the amps and guitars range from $300-30,000, Bonhams said.

Highlights include one of Clapton's main stage guitars from 2005, one of a pair he used during the Cream Reunion Shows in London and New York -- a custom built black Fender "Eric Clapton Signature" Stratocaster estimated at $20-30,000.

Also on offer is a pair of Marshall vintage basket weave speaker cabinets, from around 1970, used during the 1970s when Clapton appeared with Derek And The Dominos. The pair is expected to fetch $8-10,000.

The auction is being held in association with Wallace & Hodgson, who worked on the two previous Clapton/ Crossroads guitar auctions in 1999 and 2004.

Joe Satriani Electrifies the Best Buy Theater

Guitar hero Joe Satriani shredded his way through a blazing two hour set in New York last night, awing an audience for the second night in a row at the Best Buy Theater.

Despite harrowing, arctic winds that tore through the city streets, fans came out in droves to see the legendary ‘Satch.’ The guitarist is touring behind his newest album, Black Swans and Wormhole Wizards, and last night’s show demonstrated beyond question that the virtuoso, responsible for instructing players as reknown as Steve Vai and Metallica’s Kirk Hammett, is as on top of his game as ever.

From the second Joe hit the stage, the underground Best Buy Theater was turned into a world of screaming guitars and otherworldly effects. Satriani is a master of not only rapid-fire playing, but riding a seemingly endless tone up and down the fretboard, diving with the whammy bar only to soar back up in ear-bursting squeals. Fans closest to the stage stared open-mouthed, simply in awe as they watched his fingers fly almost faster than the eye could follow. Virtually every song was instrumental, but unlike most of his rock contemporaries, Satriani fills every second of music with such original, exciting moments and emotion that there simply isn’t room for vocals even if he wanted.

The musician had great stage presence, never removing his green-tinted sunglasses as he strode about and bobbed his head back and forth, leaning back into the crunch of his backing band’s rhythm. The band, consisting of a drummer, keyboardist, bassist and rhythm guitarist, was tightly locked in with their frontman, blasting through tight beats and stopping on a dime, giving Satriani more than enough audio elbowroom to run wild all over their foundation, sounding as well as looking otherworldy as his guitar effects and arpeggio-filled tapping created a rich sonic tapestry.

The show went on for an impressive two straight hours, including a half dozen tracks from the new record which were received just as well as the classic material. Watch my video of new, ultra-catchy song Premonition on the left side of the page. While guitar noodling can get old after a while, Satriani never faltered, keeping things interesting by demonstrating his absolute mastery of the instrument. He broke out acoustic guitars, a harmonica, and engaged in a duel with his keyboardist, battling back and forth on riffs until the keyboardist was finally unable to match a particularly epic high note bent into an impossibly long, overdriven squeal. Later, Joe played the same game with the crowd, fans doing their best to imitate the guitar licks with their voices, but if one thing was proven last night, it’s that no one or instrument can truly match what Satriani does best.

Charmingly polite in his short stage banter between songs, Joe finally took the microphone to sing on the bluesy Big Bad Moon, letting loose with a smooth singing voice that really deserves to be heard more often. Fans, who were sitting for most of the show, finally rose to their feet, and crowded right up to the stage, hands outstretched as Satriani effortlessly blazed his way across every inch of fretboard. He then encored with fan favorites Crowd Chant and Summer Song, his lightening guitar magic as impressive as it was in the beginning of the concert.

Joe Satriani might not have radio hits or rabid fanclubs like other hard rock artists, but make no mistake: This is one of rock’s greatest players, and one of rock’s greatest writers as well. Words can’t truly relate the magic of witnessing Mr. Satriani in person, and fortunately he seems set to continue writing and touring for a long time to come, both solo as well as his roles in supergroup Chickenfoot and the vaunted G3 tours. But in the meantime, fans can check out plenty of video on Youtube, buy his latest record, and be sure that next time Joe comes to town, they are in the crowd and ready to surf with the alien.

Goodnews is a News Magazine theme with unlimited colors, available for Blogger.

2012 Goodnews. All Rights Reserved. Theme By Momizat Team ~ Converted by Uong Jowo

Scroll to top